Daftar 20 Produk Indonesia yang masuk Globalisasi

Banyak masyarakat Indonesia yang skeptis tetang produk dalam negeri nya sendiri, bahkan beranggapan kalau produk-produk dari luar negeri lebih berkualitas, padahal sudah banyak produk Indonesia yang masuk globalisasi dan banyak yg tidak menyadari nya.

Ada sebuah kisah nyata, alkisah 2 warga Indonesia ini dikunjungi temannya yang berasal dari Eropa, sibule ini membawa oleh-oleh dari negaranya yaitu 2 pasang sepatu. Sibule bilang “ini oleh-oleh spesial yang dibeli langsung dari negaranya”.

Singkat cerita setelah bule pergi kedua orang ini pun membongkar kado tersebut, lalu apa yang terjadi? setelah melihat bagian bawah alas sepatu disitu terdapat tulisan “Kenca Katuhu”. Itu adalah bahasa Sunda yang artinya ” Kanan Kiri”.

Daftar Produk Indonesia yang masuk Globalisasi

Tak perlu panjang lebar lagi, berikut daftar Produk Indonesia yang masuk Globalisasi

1. Sido Muncul

Produk Indonesia yang masuk Globalisasi

Sido Muncul adalah perusahaan jamu tradisional pada awal mulanya, kemudian berkembang menjadi perusahaan besar. Perusahaan yang bermula dari industri jamu rumahan di Semarang pada tahun 1951 ini telah menyentuh pasar ASEAN, Hong Kong, Timur Tengah, Australia, Eropa, bahkan Afrika.

Sido Muncul membawa 250 produk unggulan ke pasar global, dan berhasil menjadi merk yang begitu dikenal oleh masyarakat global. Perusahaan ini mengalami proses yang panjang dalam melakukan ekspansi pasar, yang mana negara-negara lain masih memandang sebelah mata dengan kehadiran obat herbal. Namun tantangan ini bisa dikelola dengan membangun pabrik dengan standar internasional untuk food suplement dan Sido Muncul melakukan ekspansi melalui kategori tersebut.

2. Martha Tilaar Group

Produk Indonesia yang masuk globalisasi kedua adalah Martha Tilaar Group. Perusahaan ini terbentuk pada tahun 1970, dimulai dengan bisnis di garasi rumah seluas 4×6 milik Dr. Martha Tilaar. Merk ini telah mampu bersaing secara global, terbukti dengan masuknya merk ini di sepuluh negara di Asia Pasifik.

Perusahaan ini memilih untuk berekspansi ke negara lain dengan alasan bahwa modalitas Martha Tilaar yang berasal dari bahan-bahan asli Indonesia, dapat menjadi keunggulan kompetitif yang dimilikinya. Memang, pasar terbesar perusahaan ini adalah negara-negara yang memiliki banyak pekerja Indonesia, namun tidak dapat disangkal bahwa Martha Tilaar banyak diterima oleh masyarakat dunia.

3. Bio Farma

Perusahaan yang berbasis di bidang farmasi dan pencegahan penyakit ini patut menjadi kebanggaan Indonesia. Bagaimana tidak, BUMN ini termasuk kedalam 30 perusahaan farmasi di dunia yang bisa mengekspor vaksin ke 131 negara.

Bio Farma memang dalam proses produksinya begitu bergantung pada pasar global, dengan 65% produknya diekspor ke berbagai negara. Sudah berkiprah selama 124 tahun, perusahaan global ini masih terus melakukan inovasi dalam bidang vaksin.

Pada 2015 lalu, Bio Farma telah diberik ijin oleh WHO (World Health Organization) untuk melakukan ekspor vaksin Pentavalen ke seluruh dunia. Vaksin ini terbilang inovatif, karena merupakan gabungan dari enam vaksin dasar seperti difteri, polio, pertusis, tetanus, hepatitis B, dan juga Haemophylus influenza B. dengan temuan ini, imunisasi yang dilakukan kepada bayi tidak perlu sebanyak 9 kali seperti pada umumnya, namun hanya perlu 3 kali.

4. Inaco

Perusahaan yang didirikan pada tahun 1999 ini sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Dengan produk andalan yaitu nata de coco yang terbuat dari kelapa asli Indonesia. Perusahaan ini pada awalnya memiliki nama PT Niramas Utama, namun melihat ekspansi global dalam sektor nata de coco begitu diterima oleh Jepang, kemudian lahirlah merk Inaco yang merupakan singkatan dari Indonesia Nata De Coco.

Perusahaan ini menyadari bahwa kelemahan produk Indonesia adalah kualitasnya yang kurang dan juga standar produksi perusahaan dibawah rata-rata. Oleh karenanya kedua hal tersebut yang menjadi fokus dari Inaco. Segmen menengah keatas kemudian menjadi sasarannya agar sesuai dengan upaya peningkatan kualitas dan standar produksi. Kini Inaco sudah menjadi produk global yang bisa diterima oleh dunia, karena kualitas produk dan inovasi yang terus dilakukan.

5. Kelola Mina Laut (KLM)

Perusahaan di bidang perikanan ini adalah eksportir terbesar jenis produk ikan teri nasi (dry seafood) yang mendominasi 70% pasar Jepang. Setiap bulan perusahaan ini juga mengekspor 25 kontainer daging rajungan kaleng, yang 15 kontainernya diekspor ke Amerika Serikat karena popularitasnya yang tinggi.

Dalam setahun, KML mampu memproduksi 70 ribu ton olahan laut yang diekspor ke lebih dari 30 negara, dari AS, Kanada, Rusia, Tiongkok, Jepang, Taiwan, Korea, Australia, dan negara-negara di Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Afrika. Perusahaan ini bermula pada tahun 1994 di Kawasan Industri Gresik oleh Mohammad Nadjikh. Sebuah kebanggan tentunya bagi Indonesia.

6. PT Mega Andalan Kalasan (MAK)

Perusahaan yang berkembang di bidang alat rumah sakit ini memerlukan waktu 20 tahun untuk mendapatkan pasar dalam lingkup global. MAK begitu mengandalkan sektor marketing dalam meningkatkan penjualannya, seperti turun langsung pada pameran-pameran dunia untuk memperkenalkan diri. Salah satunya adalah pameran hospital equipment terbesar di Dubai, Uni Emirat Arab.

Tercatat setidaknya 150 produk telah menjadi andalan MAK, yang disalurkan ke berbagai rumah sakit besar di 36 negara. Perputaran uang pun tidak main-main, bahkan di tahun 2017 lalu saja perusahaan ini mematok target penjualan sebanyak US$ 10 juta.

7. D’eyeko

Terbentuknya perusahaan ini didasari oleh realitas di Purbalingga, yang mana kota produsen bulu mata terbesar di dunia itu lebih dikuasai oleh perusahaan asing. Sehingga tahun 2008 dibentuklah perusahaan PT Bintang Mas Triyasa untuk berkompetisi dalam memproduksi bulu mata palsu dengan merk D’Eyeko.

Permintaan bulu mata palsu yang terus meningkat di dunia, mendorong perusahaan ini untuk fokus langsung pada pasar global. Perusahaan ini cukup diuntungkan dengan banyaknya perusahaan Korea yang melakukan produksi di Purbalingga, sehingga tidak sulit untuk mendapatkan pamor di sektor tersebut. Pasarnya pun cukup luas, dari ASEAN, Arab Saudi, hingga Amerika Latin.

8. Accupunto

Accupunto didirikan pada tahun 2002 oleh Leonard Theosabrata dan bergerak dalam bidang furniture yang mengutamakan desain. Sepak terjang perusahaan ini cukup berliku, karena harus bersaing dalam berbagai pameran furtinur dunia untuk dikenal baik.

Produksi Indonesia dalam sektor furnitur memang dipandang sebelah mata dan selalu dipatok dengan harga murah. Namun berkat usaha dan jaringan yang dimiliki Leonard, merk tersebut kini diakui oleh dunia. Berbagai penghargaan didapat ketika berada di pameran furnitur di Milan, Italia yang notabene kiblat furnitur dunia. Kini Leonard Theosabrata juga mengembangkan “Indoestry” yang berfokus pada workshop keterampilan.

9. ABN

Perusahaan ini berkembang dalma sektor produksi alat kesehatan, yaitu tensimeter. Awalnya perusahaan ini hanya berkembang sebagai distributor alat-alat kesehatan, namun kemudian sang pemilik melihat adanya peluang dalam memproduksi komponen dari tensimeter yang terbuat dari karet. Terlebih, Indonesia kaya akan produksi karet sehingga potensinya sangat besar.

Dengan strategi pemasaran dengan mengikuti pameran alat kesehatan di UEA, kini ABN sudah menjadi pilihan berbagai produsen tensimeter. Setidaknya kini ABN mengekspor produknya ke 30 negara, dengan jumlah 150.000 set per bulannya.

10. Polygon

Produk Indonesia yang masuk globalisasi kedua adalah Polygon. Perusahaan sepeda ini begitu dikenal oleh masyarakat Indonesia. Namun siapa yang sadar, Polygon yang memulai produksinya di Sidoarjo, telah berekspansi menjadi perusahaan global. Kini produknya tersebar di 62 negara di seluruh benua, bahkan di Jerman dan Perancis terdapat 50 toko polygon.

Fokus dari perusahaan ini adalah kualitas yang menjadi jaminan bagi para pengendaranya. Terlepas dari ambisi untuk mengglobal, polygon juga berupaya tetap menjadi kebanggaan lokal. Sehingga masih banyak kita jumpai toko Polygon dan juga Rodalink yang merupakan anak perusahaan.

Baca Juga :

11. Pertamina Lubricants

Keinginan Pertamina untuk menjadi perusahaan migas global, tergambar pada anak perusahaannya, PT Pertamina Lubricants. Perusahaan ini berfokus pada produksi pelumas dan melakukan ekspor hingga 25 negara di lima benua. Perluasan pasar memang menjadi visinya, karena industri pelumas yang cukup rentan.

Pertamina Lubricants kemudian mengincar konsumen kelas atas melalui berbagai pameran otomotif, rally, maupun touring level dunia. Perusahaan ini menggandeng supercar – Automobili Lamborghini – untuk meningkatkan brand image dari Pertamina sendiri.

12. Telkom Indonesia

Perusahaan ini sebenarnya sudah mengincar pasar global sejak tahun 2000. Hal ini disebabkan bisnis dalam bidang telekomunikasi memiliki karakteristik yang sama dimanapun. Namun ambisi tersebut baru dapat direalisasikan pada tahun 2012 ketika kepemimpinan Arief Yahya memiliki prioritas utama ekspansi internasional.

Dibentuklah Telkom Internasional (Telin) sebagai fondasi Telkom untuk memperkenalkan diri. Telkom juga melakukan hubungan G2G (government to government) dengan harapan dapat emmbuka akses untuk berekspansi. Sasaran pasarnya juga lebih pada negara-negara yang memiliki banyak warga negara Indonesia seperti Malaysia, Hong Kong, Timor Leste, Arab Saudi, dan juga Taiwan.

13. Garuda Indonesia

Maskapai penerbangan asli Indonesia ini memang sudah mendapatkan citra yang cukup baik selama beberapa dekade terakhir. Dengan konsep layanan “Garuda Indonesia Experience”, maskapai ini berhasil bertahan di pasar global dengan menawarkan keunikan tersendiri dibandingkan dengan maskapai lainnya.

Maskapai dengan jenis full service ini memanjakan penumpangnya dengan menyentuh 5 panca indera yang dimiliki manusia (penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, dan juga sentuhan), yang dikaitkan pada kultur Indonesia. Kini maskapai tersebut dinobatkan sebagai maskapai bintang 5 dengan puluhan penghargaan baik dari Skytrax maupun CAPA.

14. GarudaFood

Perusahaan ini lebih berfokus pada produksi stik coklatnya, hingga banyak diterima oleh negara lain. Jika di Indonesia produk andalannya adalah Chocolatos, maka di India produknya diberi merk Gone Mad.

Produk ini pun begitu diterima oleh pasar India. Proses pengembangan ini GarudaFood dilakukan dengan menggandeng Polyflex Pvt. Ltd untuk mendukung proses ekspansinya. Selain India, GarudaFood juga bekerjasama dengan perusahaan OEMnya di TIongkok. Perusahaan ini pada tahun 2008 kemudian mengakuisisi pabrik gula-gula Fuhua Jinjiang Yonghe untuk memperkuat posisinya di pasar Tiongkok.

15. Indomie

Produk yang merakyat ini nampaknya juga diterima oleh masyarakat dunia. Bagaimana tidak, Indomie dijual di 80 negara di berbagai benua di dunia. Pertama kali dibuat pada tahun 1970, kini Indomie yang berada ditangan Indofood telah memiliki pabrik di Malaysia, Arab Saudi, Nigeria, Kenya, dan lain sebagainya. Tentu di tiap negara dilakukan kerjasama denga perusahaan lokal, agar membuka akses yang lebih luas pada pasar.

Benua Afrika kini menjadi fokus utama dari pengembangan, karena pasar yang begitu potensial disana. Dibuatlah pabrik di Nigeria dan Kenya, yang dapat menjangkau Afrika Barat dan Timur sekaligus. Jumlah investasinya pun tidak main-main, hingga US$ 7,3 juta. Pabrik ini memiliki kapasitas produksi 100 juta bungkus pertahun.

Selain Afrika, pasar lainnya cukup besar, mengingat ciri khas yang dibawanya. Selain itu, Indomie juga selalu menjadi produk favorit bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri.

16. Mayora

Perusahaan yang dibentuk pada tahun 1982 ini dikenal sebagai produsen permen Kopiko, biskuit Malkist, hingga sereal Energen. Tidak puas berjalan di pasar lokal, kini perusahaan tersebut telah melakukan ekspansi ke pasar internasional. Ini diawali dengan melakukan ekspor ke negara-negara ASEAN yang kemudian meluas hingga memasuki pasar Amerika Latin.

Kini setidaknya 80 negara telah menjadi pasar bagi Mayora. Strategi andalan dari perusahaan ini adalah “Mayora Marketing Way” yang mana tujuannya untuk memberikan sesuatu yang positif bagi seluruh pihak – konsumen, karyawan, dan juga stakeholders – untuk meningkatkan penjualan. Pada tahun 2014 perusahaan ini dinobatkan sebagai Top 100 Eksportir 2014 oleh Majalan SWA.

17. Yupi

Perusahaan dengan andalan Jelly Gum ini rupanya telah mengalami kesuksesan di pasar global. Berangkat dari kegelisahan akan tergerusnya produk asli Indonesia, perusahaan Yupi Indo Jelly Gum kemudian melakukan ekspansi dengan membawa merk aslinya.

Berawal dari membuat paviliun kecil di Tiongkok yang tidak efektif, kemudian perusahaan ini lebih berupaya pada membangun citra merk melalui pameran-pameran dan membangun jaringan di Eropa yang lebih menguntungkan. Kini setidaknya terdapat lebih dari 40 distributor Yupi di 40 negara. Strategi yang kini digunakan lebih pada menggunakan iklan di media, dengan nominal modal minimal mencapai US$ 1 juta disetiap kontrak iklannya.

18. Selamat Sempurna

Perusahaan ini mulai berkembang pada tahun 1970an pasca transisi ke Orde Lama. Produk andalannya adalah Sakura Filter dan ADR Radiator. Pengembangan dua produk ini didasari oleh semakin banyaknya transportasi di Indonesia, sehingga produsen onderdil akan banyak diuntungkan.

Lalu setelah sukses di Indonesia, Selamat Sempurna melakukan ekspansi luar biasa hingga diekspor ke 110 negara di berbagai benua di Indonesia. Yang menarik dari merk ini adalah penggunaan kata sakura yang cenderung kekhasan dari Jepang. Pemilihan produk ini dilakukan untuk menyesuaikan keinginan pasar yang lebih condong pada produk Jepang. Sehingga produk asli Indonesia ini banyak menarik pembeli dan bisa bersaing secara global.

19. Diabetasol

Ketika di akhir 2011 lalu diramaikan oleh berita Kalbe Farma Tbk. yang akan berekspansi ke pasar Filipina, Diabetasol menjadi produk andalannya. Kini bahkan Diabetasol berhasil menjadi market leader di negara tersebut. Produk ini diciptakan untuk menjadi nutrisi pengganti makanan bagi penyandang diabetes melitus. Filipina yang memiliki penyandang diabetes cukup banyak, menjadi peluang bagi Kalbe. Hingga kemudian perusahaan ini masuk melalui jaringan medis, sebelum masuk ke pasar konsumen.

20. Semen Indonesia

Produk Indonesia yang masuk globalisasi kedua puluh adalah Semen Indonesia. Semen Indonesia dapat disebut sebagai BUMN pertama yang berstatus multinational corporation karena telah berhasil mengakuisisi perusahaan asing – Thang Long Cement, Vietnam – pada tahun 2012. Upaya ini dilakukan oleh Semen Indonesia untuk mendapatkan brand image yang kuat.

Sasaran pasarnya pun kini begitu luas, terutama di ASEAN dan juga Asia Selatan. Bahkan pabriknya di Myanmar kapasitas produksinya 500.000 ton dan sedang dalam proses pengembangan menuju 1,5 juta ton. Pengembangan ini cukup menjanjikan, karena pasarnya yang juga luas.

Itulah daftar 20 produk Indonesia yang masuk globalisasi yang berhasil memperluas pasarnya ke level global. Tentunya terdapat perusahaan-perusahaan dab produk lain yang kini mulai berekspansi seperti J.CO Donuts, Batik dan lainnya, namun setidaknya 20 perusahaan ini bisa dijadikan sebagai motivasi untuk lebih percaya diri dalam bersaing di pasar global.

Published on Oktober 14, 2020

Reader Interactions

Berikan Komentar